SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN MIFTAHUL ULUM SUREN

KH. Ahmad Mudzhar sang Pendiri Pesantren Miftahul Ulum Suren dilahirkan pada tahun 1904, beliau merupakan anak ke 4 dari pasangan K.Abdussalam dan Ny.Saupa yang bertempat tinggal di Desa Karang Cempaka Kecamatan Bluto kabupaten Sumenep. K.Ahmad Mudzhar kecil saat itu diberi nama Ahmad Muda’i (nama Ahmad Mudzhar beliau sandang setelah beliau menunaikan Ibadah Haji). K.Abdussalam sendiri merupakan keturunan Syeikh Umar (dimakamkan di desa Sasar Sumenep) dan ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa beliau adalah keturunan salah satu panglima Kerajaan Sumenep dan menjadi orang kepercayaan Sultan Sumenep kala itu. Seiring pertumbuhan anak pada biasanya, K.Ahmad Mudzhar sekilas tidak tampak memiliki kelebihan yang menonjol, beliau belajar membaca al-Qur’an pertama kali dari ayahandanya sampai beliau berusia sekitar 6 tahun. Kemudian setelah itu belum sempat beliau K.Ahmad Mudzhar menuntuskan masa kanak-kanaknya telah dimondokkan ke Pesantren Banyuanyar Pamekasan Madura yang saat itu diasuh oleh K.Abdul Hamid bin Itsbat yang terkenal kealimannya sampai ke Mekkah al-Mukarromah itu. Tak lama menimba ilmu di Pesantren Banyuanyar Madura, kemudian K.Ahmad Mudzhar melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Pulau Jawa, dan akhirnya sampai ke daerah Kabupaten Jember, bersama kedua saudaranya beliau nyantri di sebuah pesantren yang kini terkenal dengan sebutan PP.Raudlatul Ulum Sumber Wringin dibawah asuhan Almaghfurlah KH.Umar bin Ikrom (Ayahanda KH.Khotib Umar), dan di sinilah K.Ahmad Mudzhar mulai menapakkan berbagai kelebihannya sebagai santri yang rajin, cerdas dan alim, yang saat itu sangat jarang dijumpai santri di Pesantren Sumber Wringin yang melebihi kecerdasan beliau. Dalam mencari ilmu, K.Ahmad Mudzhar melaluinya dengan serba keterbatasan dan kekurangan biaya, hal itu dikarenakan beliau memang anak orang yang tidak mampu. Beliau sering membantu pekerjaan masyarakat di sekitar pesantren hanya demi mendapatkan sesuap nasi di saat beliau benar-benar tidak mempunyai beras untuk dimasak. Ny.Munawwaroh Mudzhar, salah satu putra beliau menuturkan bahwa saat mencari ilmu K.Ahmad Mudzhar sering kali mencuci pakaian di sungai sambil membawa kitab dengan tujuan beliau mebaca kitab di sungai sambil menunggu baju yang selesai dicuci tersebut benar-benar kering, hal itu dikarenakan minimnya pakaian yang dimiliki oleh K.Ahmad Mudzhar saat masih mondok di Pesantren Sumber Wringin. Kenyataan hidup serba kekurangan itu ternyata tidak mematahkan semangat K.Ahmad Mudzhar untuk tetap tekun mencari ilmu agama, sehingga tak heran jika beliau dinobatkan sebagai salah satu santri yang paling ‘Alim dan paling mumpuni dalam urusan kitab, dan tak jarang K.Ahmad Mudzhar diperintahkan oleh K.Umar untuk menggantikan beliau “murok” (mengajar) pengajian Kitab untuk santri di Masjid Pesantren Sumber Wringin saat itu jika sang Kiai sedang berhalangan, padahal saat itu K.Ahmad Mudzhar masih berstatus sebagai santri. Selang beberapa tahun K.Ahmad Mudzhar yang notabene merupakan santri yang sangat ‘Alim tersebut atas perintah K.Umar kemudian menikahi putri seorang tokoh masyarakat yang ada di sebuah desa bernama Suren yang konon menurut Ny.Muflihah Mudzhar salah satu putri beliau bahwa kala itu desa Suren masih menjadi sarang para penjahat, penjudi dan lainnya. Beliaulah yang memulai untuk mengatur kondisi sosial masyarakat di desa itu menjadi sebuah pedesaan yang layak, damai dan aman disinggahi dengan mendirikan Musholla tempat mengaji dan mengadakan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Masyarakat Jember Timur yang saat itu mengetahui keberadaan KH.Ahmad Mudzhar (yang mana beliau merupakan salah satu santri kesayangan KH.Umar Sumber Wringin) yang menetap di desa Suren, maka masyarakat beramai-ramai memondokkan putra-puterinya ke KH.Ahmad Mudzhar. Dari tahun ke tahun, jumlah santri yang awalnya hanya belasan meningkat menjadi puluhan, maka sejak itulah tepatnya pada tahun 1952 kemudian Beliau mendirikan sebuah pesantren yang awalnya dinamakan Pondok Pesantren Ar-Rohmah, dan dikemudian hari atas usulan beberapa putra beliau (yaitu KH.Hanafi Mudzhar dan KH.Muhammad Hasan Mudzhar) diganti menjadi Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Seiring berjalannya waktu Pondok Pesantren Miftahul Ulum mengalami berbagai macam perkembangan, bertambahnya santri menjadi sekitar 500an dan jika dihitung dengan siswa yang tidak mondok mencapai 1200an santri. Semua itu tidak luput dari kepiawaian KH.Ahmad Mudzhar dalam berdakwah dan mendidik santri-santrinya dengan dibantu oleh putra-putrinya. KH.Ahmad Mudzhar diketahui beristri sampai 4 kali yaitu dengan Ny.Sholhah binti K.Shonhaji, Ny.Nafisah binti K.Azhari, Ny.Ruqoyyah, dan istri yang terakhir adalah Ny.Khadijah binti K.Jamaluddin. Adapun putra-puteri beliau dari keempat istrinya tersebut adalah : 1. Dari Istri Pertama (Ny.Sholhah binti K.Shonhaji) berputra : – Ny.Muflihah (Dhalem Timur) – KH.Hanafi (menjadi penasehat Pengasuh, saat ini bertempat tinggal di Suren) – Ny.Munawwaroh (Dhalem Bawah) – Ny.Munifah (wafat saat masih bayi) 2. Dari Istri Kedua (Ny.Nafisah binti K.Azhari) berputra : – KH. Muhammad Hasan (menjadi pengasuh kedua dan wafat tahun 2007) – Ny. Syukriyah (Istri KH.Madani, bertempat tinggal di Sempolan Onjur) – KH. Mudatsir (menjadi pengasuh ketiga sampai saat ini) – Ny. Romlah (Istri KH.Kholid Muhammad, PP.Sumber Wringin) 3. Dari Istri Ketiga (Ny.Ruqoyyah) tidak memiliki putra. 4. Dari Istri Keempat (Ny.Khadijah binti K.Jamaluddin) berputra : – KH. Khazin Mudzhar (saat ini masih menempuh pendidikan S1 di Jogja) KH. Ahmad Mudzhar wafat pada bulan Januari 1997 tepatnya pada tanggal 17 bulan Ramadhan dan dimakamkan di Pasarean/Makam Keluarga PP.Miftahul Ulum berdampingan dengan makam Istri-istrinya. Setelah wafatnya beliau, estafet kepengasuhan diserahkan kepada putra keempat beliau yaitu KH.Muhammad Hasan Mudzhar. Sampai saat ini setelah wafatnya Pengasuh Kedua, kepengasuhan dipegang oleh KH.Mudatsir Mudzhar. {SEKILAS TENTANG PP.MIFTAHUL ULUM} Sekitar 60 tahun yang lalu, seorang pemuda asal Madura bernama Ahmad Muda’i yang kemudian hari setelah menunaikan haji berganti nama menjadi Ahmad Mudzhar menginjakkan kaki di tanah Jawa, tepatnya di Kabupaten Jember guna untuk mencari ilmu bersama kedua saudaranya. Saat itu beliau nyantri di sebuah pesantren yang kini terkenal dengan sebutan PP.Raudlatul Ulum Sumber Wringin dibawah asuhan Almaghfurlah KH.Umar (Ayahanda KH.Khotib Umar). Selang beberapa tahun Ahmad Mudzhar diperintahkan untuk menikahi seorang gadis putra seorang tokoh yang ada di sebuah desa bernama Suren yang konon kala itu desa tersebut masih menjadi sarang para penjahat, penjudi dan lainnya dari gerombolan orang2 jahat. Beliaulah yang memulai untuk mengatur kondisi sosial masyarakat di desa itu menjadi sebuah pedesaan yang layak, damai dan aman disinggahi. Kemudian Beliau mendirikan sebuah pesantren yang bernamana Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Seiring berjalannya waktu Pondok Pesantren Miftahul Ulum mengalami berbagai macam perkembangan, Hal itu tidak luput dari kepiawaian KH.Ahmad Mudzhar dalam berdakwah dan mendidik santri-santrinya dengan dibantu oleh putra-putrinya. Dapat diketahui bahwa PP.Miftahul Ulum sampai saat ini telah mengalami beberapa generasi kepengasuhan. Pengasuh Pertama yaitu KH.Ahmad Mudzhar, Pengasuh kedua KH.Muhammad Hasan Mudzhar dan Pengasuh ketiga saait ini adalah KH.Mudatstsir Mudzhar. Selama pergantian generasi kepengasuhan itu, Pesantren yang memiliki kurang lebih 1200-an anak didik ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal itu bisa terlihat dari sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia demi lancarnya proses pendidikan di PP.Miftahul Ulum Suren ini. Adapun lembaga pendidkan yang dimiliki oleh PP.Miftahul Ulum saat ini adalah : Pendidikan Diniyah : -Madrasah Diniyah -Pendidikan Khitobah -Pendidikan Qiro’at al-Qur’an -Pendidikan Tahsin al-Khot -Pengajian Kitab Kuning -Pondok Kecil Nubdat al-Bayan (Pendidikan Baca Kitab Kuning untuk murid di bawah umur 15th) -Ma’had Al-Aly (sedang dalam proses realisasi) Umum : -PAUD Miftahul Ulum -RA Miftahul Ulum -MI Miftahul Ulum I -MI Miftahul Ulum II -MI Miftahul Ulum III -MTS Miftahul Ulum I -MTS Miftahul Ulum II -MA Miftahul Ulum (IPS, IPA dan Agama) -STAI Miftahul Ulum Suren (dalam proses realisasi) Pendidikan Ekstrakurikuler : -PBA (Pendidikan Bahasa Asing) -Kursus Otomotif -Pendidikan IT (Komputer) Adapun jenis-jenis usaha yang dikembangkan oleh PP.Miftahul Ulum Suren saat ini adalah : – BMT Pondok Suren – Kopontren Miftahul Ulum I – Kopontren Miftahul Ulum II – Kantin MI Miftahul Ulum Suren – Kantin MTs Miftahul Ulum Suren – Kantin MA Miftahul Ulum Suren – Kantin Pondok Barat Miftahul Ulum Suren – Kantin Pondok Timur Miftahul Ulum Suren – Salon Motor dan Mobil Miftahul Ulum Suren (baru dimulai) – Bengkel Otomotif Miftahul Ulum Suren (baru dimulai) – Percetakan Miftahul Ulum Suren (dalam proses realisasi) Adapun jenis-jenis kegiatan Extrakurikuler pendukung kegiatan Santri dan Siswa Miftahul Ulum Saat ini adalah : – Olahraga : Sepakbola, Bola Volly, basket, Tenis Meja, Bulu Tangkis – Seni Musik : Gambus (dalam proses realisasi), Drumband (dalam proses realisasi) – Seni Beladiri : Taekwondo – Kerajinan : Menjahit, Batik, Menyulam, Menganyam, Melukis, Perbengkelan, dan Pertukangan – Organisasi : Osis, Pramuka, Pecinta Alam dan Kepengurusan Pesantren – Jurnalistik : Buletin Osis MTs dan MA Miftahul Ulum Adapun sarana gedung yang dimiliki saat ini adalah : – 7 Gedung Kantor (meliputi Kantor Yayasan, Kantor PAUD/RA, Kantor MI, Kantor MTs, Kantor MA, Kantor Pesantren – 59 Kamar Pemukiman Santri Putra dan Putri – 34 Ruang Kelas – 1 Masjid Jamik – 7 Musholla – 18 Toilet Pesantren dan Sekolah – 2 Gedung Perpustakaan – 1 Gedung Klinik Kesehatan (Peshat) – 1 Gedung Laboratorium Bahasa – 1 Gedung Laboratorium IPA – 3 Ruang Laboratorium Komputer (MI, MTs, MA) – 1 Gedung Kursus Otomotif – 2 Lapangan Basket – 2 Lapangan Futsal – 2 Lapangan Bulu Tangkis – 2 Lapangan Tenis Meja – 1 Lapangan Bola Volly – 2 Halaman Parkir Terpadu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *